Senin, 31 Januari 2011

tren issu pencernaan


Bypass Lambung Mengatasi Obesitas

A.      Latar Belakang

Upaya penurunan berat badan menjadi trend di era ini sebagai salah satu cara untuk mempercantik diri. Berbagai macam metodanya, ada yang hanya mengatur diet, menggunakan obat termasuk golongan herbal sampai ke upaya-upaya yang lebih memanipulasi tubuh –disebut poles body kalau di automotive- seperti dengan sistim injeksi lemak ataupun penyedotan lemak (liposuction). Tapi untuk mereka yang tergolong overweigh atau obesitas, upaya-upaya di atas tidaklah efektif. Mereka lebih membutuhkan tindakan yang lebih invasif lagi. Di beberapa negara yang sudah maju teknologi kedokterannya, satu ketrampilan bedah yang menjadi laris saat ini adalah Bariatric Surgery, yaitu suatu pembedahan untuk menanggulangi –baik itu mencegah maupun mengatasi- kondisi berat badan yang di atas normal
.
B.      Definisi
Bypass lambung adalah salah satu kelompok operasi yang sama yang digunakan untuk mengobati obesitas morbid -akumulasi berat kelebihan berat sebagai jaringan lemak dan masalah kesehatan (komorbiditas) yang menyebabkan. pembedahan bariatric merupakan istilah yang mencakup semua bedah perawatan untuk obesitas morbid, bukan hanya memotong lambung, yang membuat hanya satu kelas dari operasi tersebut.
Sebuah bypass lambung pertama membagi perut ke kantong atas kecil dan "jauh lebih besar, lebih rendah sisa" kantong dan kemudian kembali mengatur usus kecil untuk memungkinkan kedua kantong untuk tetap terhubung. Ahli bedah telah mengembangkan beberapa cara berbeda untuk menyambung kembali usus, sehingga menyebabkan beberapa nama GBP yang berbeda. Setiap GBP menyebabkan penurunan ditandai dalam volume fungsional perut, disertai oleh respon fisiologis dan psikologis berubah ke makanan. Berat badan yang dihasilkan, biasanya dramatis, nyata mengurangi komorbiditas . Istilah Angka kematian-panjang pasien bypass lambung telah terbukti dapat dikurangi sampai 40%;Namun, komplikasi yang umum dan operasi yang berhubungan dengan kematian terjadi dalam waktu satu bulan dalam 2% pasien

C.     Mekanisme kerja
Pencernaan normal, makanan bergerak melalui jalur pencernaan dari mulut ke anus sementara cairan dan enzim pencernaan bekerja untuk menyerap kalori dan gizi. Dari esofagus (tabung yang menghubungkan mulut ke perut), makanan tiba di lambung untuk dipecah oleh asam lambung. Perut rata-rata dapat menahan dari 3 liter untuk 1 liter makanan pada satu waktu. Dari lambung, makanan bergerak melalui suatu sfingter ke duodenum, bagian pertama dari usus halus, di mana banyak nutrisi penting diserap. Apa yang tersisa kemudian melewati sisa dari usus kecil di mana lebih banyak nutrisi dan kalori yang diserap hingga mencapai limbah usus besar di mana ia disimpan sampai eliminasi.Operasi bypass lambung mengubah proses ini.
 Lambung dipisah dua, satu bagian kecil yang langsung disambungkan ke usus besar (tanpa melalui usus halus). dan sebagian besar lambung serta usus halus dibiarkan tersimpan didalam tubuh, namun tidak terpakai. Dengan cara seperti ini, kita akan merasa cepat kenyang karena kapasitas perut yang sangat sedikit, dan sebagian besar lemak yang kita konsumsi tidak akan terserap oleh tubuh, karena makanan yg kita kosumsi tidak melewati usus halus yg berfungsi untuk menyerap sari-sari makanan. Kelebihan dari metode gastric bypass yang ini adalah, karena tidak ada organ yang dibuang, prosedurnya dapat dibalik, sehingga sistem pencernaan kembali seperti semula.

D.     Indikasi Pembedahan
Pada obesitas, lalu serius ditafsirkan dengan berat minimal 100 pon (45 kg) lebih dari berat badan "ideal", berat badan aktuaria ditentukan di mana yang diperkirakan akan hidup paling lama, sebagaimana ditentukan oleh industri asuransi jiwa. Kriteria ini gagal untuk orang pendek.
Pada tahun 1991, National Institutes of Health disponsori panel rekomendasi konsensus yang telah menetapkan standar saat ini untuk pertimbangan pengobatan bedah, indeks massa tubuh (BMI). BMI didefinisikan sebagai berat badan (dalam kilogram), dibagi dengan kuadrat dari tinggi (dalam meter). Hasilnya adalah dinyatakan sebagai nomor biasanya antara 20 dan 70, dalam satuan kilogram per meter persegi.
Panel Konsensus dari Institut Kesehatan Nasional (NIH) yang direkomendasikan kriteria berikut untuk mempertimbangkan pembedahan bariatric, termasuk prosedur bypass lambung:
1.     Orang-orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) 40 atau lebih tinggi. Atau,
2.     Orang-orang dengan BMI 35 atau lebih tinggi dengan satu atau lebih kondisi komorbid terkait.
Panel Konsensus juga menekankan perlunya perawatan multidisipliner pasien bedah bariatric, oleh tim dokter dan terapis, untuk mengelola terkait bersama-morbiditas, gizi, aktivitas fisik, perilaku dan kebutuhan psikologis. Prosedur bedah yang terbaik dianggap sebagai alat yang memungkinkan pasien untuk mengubah gaya hidup dan kebiasaan makan, dan untuk mencapai efektif dan manajemen permanen obesitas dan perilaku mereka makan.

E.      Komplikasi
·         Infeksi
Infeksi dari sayatan atau bagian dalam perut (peritonitis, abses) dapat terjadi, karena pelepasan bakteri dari usus besar selama operasi.
·         Perdarahan
Banyak pembuluh darah harus dipotong untuk membagi perut dan usus untuk bergerak.
·         Kebocoran anastomic
Sebuah anastomosis adalah sambungan bedah antara perut dan usus, atau antara dua bagian dari usus besar
·         Mag anastomic
Ulkus dari anastomosis terjadi dalam 1-16% dari pasien  Kemungkinan penyebab borok tersebut adalah:
ü  Pembatasan suplai darah ke anastomosis (dibandingkan dengan suplai darah yang tersedia bagi perut asli)
ü  Anastomosis ketegangan
ü  Merokok

Kondisi ini dapat diperlakukan sebagai berikut:
ü  Penggunaan Inhibitor pompa proton , misalnya, Nexium
ü  Penggunaan Cytoprotectant dan asam agen Buffer , misalnya, Sukralfat
ü  Sementara pembatasan konsumsi makanan padat

·         Kekurangan gizi

F.      Manfaat
Manfaat dari operasi ini selain utk menurunkan berat badan,secara otomatis pula menurunkan beban jantung,paru dan ginjal,serta yg paling penting adalah nilai estetik dari tubuh yg ideal. Terapi ini terbagi menjadi 3 macam yaitu gastric bypass,gastric pacing,dan gastric banding. 
Tingkat keberhasilan dari operasi bedah lambung masih <50%. Maksudnya adalah,penurunan berat badan bukan langsung terjadi karena operasinya saja,tetapi pasien juga harus konsisten mengikuti aturan diet yg berlaku. Dgn terapi bedah ini maka lambung pasien menjadi lebih kecil,sehingga pasien akan cepat merasa kenyang dan pengosongan makanan pun akan berlangsung perlahan. Pasien tidak akan merasakan lapar hingga beberapa jam,kalaupun dipaksakan makan,dia akan merasa penuh dan muntah. Akibatnya,keinginan makan bisa dikendalikan dan lambat laun berat badan akan turun. 















Daftar Pustaka
http://www.meillyssach.co.cc/


















KISTA RENALIS

KISTA RENALIS
1.    PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Kelainan genetik yang menyebabkan panyakit ini bisa bersifat dominan maupun resesif.Artinya penderita bisa memiliki 1 gen dominan dari salah satu orangtuanya atau 2 gen resesif dari kedua orangtuanya.
Penderita yang memiliki gen dominan biasanya baru menunjukkan gejala pada masa dewasa; penderita yang memiliki gen resesif biasanya menunjukkan penyakit yang berat pada masa kanak-kanak.
Pada anak-anak, penyakit ginjal polikista menyebabkan ginjal menjadi sangat besar dan perutnya membuncit.Bayi baru lahir yang menderita penyakit berat bisa meninggal segera setelah dilahirkan, karena gagal ginjal pada janin menyebabkan terganggunya perkembangan paru-paru.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1  Apakah definisi kista renalis?
1.2.2  Apa etiologi dari kista renalis?
1.2.3  Apa saja manifestasi klinik dari kista renalis?
1.2.4  Bagaimana pemeriksaan penunjang dari kista renalis?
1.2.5  Bagaimana penatalaksanaan dari kista renalis?
1.2.6  Apa saja diagnosa yang muncul dari kirta renalis?
1.2.7 Bagaimana patofisiologi dari kista renalis?
1.2.8 Bagaimana intervensi diagnosa yang muncul dari kirta renalis?

1.3  TUJUAN PENULISAN
1.3.1  Menjelaskan definisi kista renalis.
1.3.2  Menjelaskan etiologi dari kista renalis.
1.3.3  Menjelaskan manifestasi klinik dari kista renalis
1.3.4  Menjelaskan pemeriksaan penunjang dari kista renalis.
1.3.5  Menjelaskan penatalaksanaan dari kista renalis.
1.3.6  Menjelaskan diagnosa yang muncul dari kirta renalis.
1.3.7 Menjelaskan patofisiologi dari kista renalis.
1.3.8 Menjelaskan intervensi diagnosa yang muncul dari kirta renalis.
2. PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI KISTA RENALIS
Ø  Penyakit Ginjal Polikista adalah suatu penyakit keturunan diamana pada kedua ginjal ditemukan banyak kista, ginjal menjadi lebih besar tetapi memiliki lebih sedikit jaringan ginjal yang masih berfungsi.
Ø  Kista adalah suatu kantung tertutup yang dilapisi oleh jaringan epitel dan berisi cairan atau bahan setengah padat.

2.2 ETIOLOGI
Ø  Kelainan genetik yang menyebabkan panyakit ini bisa bersifat dominan maupun resesif. Artinya penderita bisa memiliki 1 gen dominan dari salah satu orangtuanya atau 2 gen resesif dari kedua orangtuanya.
Ø  Penderita yang memiliki gen dominan biasanya baru menunjukkan gejala pada masa dewasa; penderita yang memiliki gen resesif biasanya menunjukkan penyakit yang berat pada masa kanak-kanak.

2.3  MANIFESTASI KLINIK
Ø  Pada anak-anak, penyakit ginjal polikista menyebabkan ginjal menjadi sangat besar dan perutnya membuncit.
Ø  Bayi baru lahir yang menderita penyakit berat bisa meninggal segera setelah dilahirkan, karena gagal ginjal pada janin menyebabkan terganggunya perkembangan paru-paru.
Ø  Gejalanya berupa nyeri punggung
Ø  darah dalam air kemih (hematuria)
Ø  infeksi dan nyeri kram hebat akibat batu ginjal (kolik renalis)
Ø  Pada penderita lain yang memiliki lebih sedikit jaringan ginjal yang berfungsi bisa kelelahan, mual, berkurangnya pembentukan air kemih dan gejala lainnya akibat gagal ginjal.

2.4    PEMERIKSAAAN PENUNJANG
Ø  Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat keluarga dan gejala-gejalanya.
Jika penyakit telah mencapai stadium lanjut dan ginjal sangat membesar, maka diagnosisnya sudah pasti.
Ø  USG dan CT scan menunjukkan gambaran ginjal dan hati yang sudah dimakan ngengat akbiat kista.

2.5    PENATALAKSANAAN
Ø  Lebih dari separuh penderita akan mengalami gagal ginjal di kemudian hari.
Ø  Mengobati infeksi dan tekanan darah tinggi bisa memperpanjang harapan hidup penderita.
Ø  Untuk mengatasi gagal ginjal, dilakukan dialisa atau pencangkokan ginjal.

2.6    PATOFISIOLOGI
 
2.4    DIAGNOSA KEPERAWATAN

No
Diagnosa Keperawatan
1
Nyeri b.d peningkatan tekanan pada saluran vesika urinaria.
2
Inefektif pola nafas b.d penurunan reekspansi paru.
3
Perubahan eliminasi urin b.d kesulitan berkemih dan penurunan kontraksi otot saluran kemih.
4
Ansietas b.d kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

2.5    INTERVENSI

No Dx
Tujuan / Kriteria Hasil
Rencana Tindakan
Rasional
1
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ± 24jam rasa nyeri px menurun atau berkurang dengan kriteria hasil:
a.      Perasaan senang secara fisik dan psikologis.
b.     Ekspresi wajah menunjukkan kenyamanan.
1.Minta px untuk menilai nyeri pada skala 0-10.
2.Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi frekuensi, kualitas, intensitas/keparahan nyeri.
3.Observasi isyarat ketidaknyamanan nonverbal.
4.Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (distraksi, relaksasi).
5.Kolaboratif dalam pemberian analgetik.
1.Untuk menilai skala nyeri px.

2.Untuk mengetahui lokasi, karakteristik, durasi frekuensi, kualitas, keparahan nyeri.


3.Mengetahui ungkapan nonverbal px.
4.Agar px tidak terfokus pada nyeri yang dirasakan.

5.Untuk pemberian analgetik yang sesuai.
2
Setelah dilakukan tindakan selama ± 24jam diharapkan:
a.       menunjukan pola nafas efektif.
b.      Kedalaman inspirasi dan kemudahan bernafas.
c.       Tidak ada penggunaan otot bantu.
1.Pantau adanya pucat dan sianosis.
2.Pantau kecepatan, irama, kedalaman dan usaha respirasi.
3.Observasi dan dokumentasi ekspansi dada bilateral pada px dengan ventilator.
4.Auskultasi bunyi nafas, perhatikan adanya keabnormalan.
5.Informasikan kepada px dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk meningkatkan pola pernafasan.
6.Kolaborasi dalam pemberian obat bronkodilator sesuai dengan progam.
1.Untuk mengetahui adanya gangguan difusi.
2.Menilai dan mengetahui RR.

3.Mengetahui adanya penggunaan otot bantu dalam pernafasan.
4.Mengetahui adanya bunyi abnormal atau tambahan dalam paru.
5.Untuk mengalihkan perhatian dan merelaksasikan bernafas.


6.Untuk meberikan obat bronkodilator yang sesuai dengan indikasi.
3
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ± 2x24 jam diharapkan masalah dapat teratasi dengan kriteria standar:
1. Menunjukan kontinesia urin.
1.Mempertahankan pola eliminasi urin yang otimum.
2.Pantau eliminasi,frekuensi, konsistensi,volume dan warna dengan tepat.
3.Dapatkan spesimen urin pancar tengah dengan tepat.
4.Intruksikan pada px untuk berespon segera terhadap keb eliminasi.
5.Ajarkan px untuk minum 200ml cairan pada saat makan.
1.Agar pola eliminasi urin yang otimum.
2.Untuk mengetahui dan menilai perkembangan.

3.Untuk mengetahui pemeriksaan dengan tepat.
4.Agar eliminasi dapat lancar dan teratur.

5.Untuk menyeimbangkan kebutuhan cairan dan elimanasi.
4
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ± 2x24 jam diharapkan masalah dapat teratasi dengan kriteria standar:
1. Px mengungkapkan sudah mengetahui tentang penyakit yang sedang dialami.
1. Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.
2. Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.
3. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
4. Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.
1. Untuk mengetahui tingkat dari anxietas px
2. Agar mengetahui tentang penyakit yang dialami.

3. Agar px dapat mengungkapkan perasaan.
4. Agar px mendapat dukungan dari pihak keluarga.


3. PENUTUP
3.1  SIMPULAN
Ø  Penyakit Ginjal Polikista adalah suatu penyakit keturunan diamana pada kedua ginjal ditemukan banyak kista, ginjal menjadi lebih besar tetapi memiliki lebih sedikit jaringan ginjal yang masih berfungsi.

3.2    SARAN
Ø  Kita dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan agar pasien mampu:
  1. Melakukan elimanasi dengan lancar dan teratur.
  2. Melakukan berkemih dengan nyaman.















DAFTAR RUJUKAN


1)      Wim de, Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Alih bahasa R. Sjamsuhidayat Penerbit Kedokteran, EGC, Jakarta, 1997
2)      Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Bandung, Yayasan IAPK pajajaran, 1996
3)      M. Tucker, Martin, Standart Perawatan Pasien : Proses keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi V, Volume 3, Jakarta, EGC,1998
4)      Susanne, C Smelzer, Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &Suddart) , Edisi VIII, Volume 2, Jakarta, EGC, 2002
5)      Basuki B. purnomo, Dasar-Dasar Urologi, Malang, Fakultas kedokteran Brawijaya, 2000
6)      Doenges E. Marilynn, Rencana Asuhan keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta. EGC. 2000


AKEP KISTA BRONKOGENIC


BRONCHOGENIC CYST


A.    Definisi

Bronchogenic kista. Anteroposterior melihat pada konvensi ...

Tampilan anteroposterior pada radiograf konvensional menunjukkan massa di paru-jendela aorto.

Bronchogenic Cyst ( Kista Bronchogenic ) adalah lesi kongenital asal berasal dari foregut primitive dan kista umum utama sebagian besar mediastinum. Bronchogenic Kista adalah lesi kongenital diduga hasil dari tunas abnormal dari foregut ventral yang terjadi antara 26 dan 40 hari umur kehamilan. Tunas abnormal ini kemudian membedakan ke dalam kantong, berisi cairan buta-berakhir. Kebanyakan kista terletak di mediastinum, dekat carina trakea. kista Bronchogenic adalah hasil pembangunan anomali dari perut foregut, mereka biasanya tunggal tetapi mungkin banyak dan bisa diisi dengan cairan atau lendir. Mereka telah ditemukan sepanjang kursus trakeoesofagus, di situs perihilar atau intraparenchymal, dengan kesukaan untuk daerah di sekitar carina tersebut
 Paling sering unilocular, mereka berisi cairan bening atau, kurang umum, sekresi perdarahan atau udara. Mereka dibatasi oleh epitel silia kolumnar, dan dinding-dinding mereka sering mengandung tulang dan kelenjar mukosa bronkial. Hal ini tidak biasa bagi mereka untuk memiliki paten koneksi dengan saluran pernafasan, tapi ketika hadir, seperti komunikasi mungkin mempromosikan infeksi kista dengan membiarkan masuk bakteri.

Menurut literatur, intrapulmonary kista lebih sering terjadi di lobus bawah. Tapi dalam seri kami, 4 dari 6 kista intrapulmonary berada di lobus atas. Mereka dapat terjadi pada lokasi atipikal banyak, mulai dari leher ke dura mater spinalis, di bawah diafragma. Bronchogenic kista muncul sebagai massa bulat atau oval dengan garis halus dan biasanya unilocular dan noncalcified.

Pada bayi dan anak-anak kecil, kista ini dapat mengancam kehidupan ketika mereka menekan struktur vital. Pada bayi, presentasi awal mungkin gangguan pernapasan. Lebih dari setengah pasien asimtomatik.

B.     Etiology
Penyebab masih belum diketaghui secara jelas. Namun ada factor-faktor pendukung yang menyebabkan munculnya cysta bronkogenik antara lain sebagai berikut :
·         Akibat benturan pada darah thorak
·         Pengosumsian bahan-bahan kimia yang memicu terbentuknya kanker (kista dapat didefinisikan sebagai awal mula terbentuknya kanker), missal : asbes, nikotin dll
·         Infeksi dari penyakit lain terutama pada system pernafasan






C.    Patofisiology

Infeksi dari penyakit saluran pernafasan                                      Terpapar zat karsinogenik      


 

Tumbuh jaringan abnormal
pada bronkus


 

kompresi pd sal. Cerna                  kompresi pd sal. Nafas                        kompresi pd jantung






 

    obstruksi  sal. Cerna                      obstruksi sal. nafas                               ↓ curah jantung











 

disfagia               pola nafas inadekuat     G. pertukaran gas      G. perfusi jaringan






 

           ↓nafsu makan                                                                                              kelemahan
                G3 Nutrisi                                                                          
                                                                                                                                G. mobilitas
D.    Manifestasi Klinis

Kista bronchogenic tidak menunjukkan gejala dan temuan insidental pada radiografi, kista kebanyakan gejala-dan komplikasi lebih sering terjadi pada pasien simtomatik. Yang paling sering adalah gejala batuk, demam, sakit, dan dyspnea. Kompresi Tracheobronchial dan infeksi paru dapat terjadi pada anak-anak karena tracheobronchial pohon lunak relatif. Pada seri kami, 81% dari pasien menunjukkan gejala. kista bronchogenic biasanya bermanifestasi sebagai massa bola baik air atau jaringan lunak redaman.


E.     Pemeriksaan Penunjang
*      Radiografi Dada : Untuk mengetahui udara atau cairan yang ada di dalamnya.
*      CT Scan : Kista muncul sebagai lesi dengan batas-batas halus dan dinding tipis dan mungkin berisi sekret, nanah, atau darah.
*      Computed tomography : Untuk menunjukan ukuran dan posisi Bronchogenic Cyst.
*      Biobsi Jaringan
*      Ultrasonograpic
*      MRI
*      Esophagography: barium A menelan membantu untuk menentukan massa dan efeknya pada struktur berdekatan.

F.     Penatalaksanaan
Pengobatan Perawatan Bedah Kista Bronkogenik :
Bedah spesimen kista bronchogenic dipotong mengungkapkan lesi kistik dilapisi oleh epitel pernafasan.
*      Bedah reseksi dari semua gejala kista bronchogenic dianjurkan.
*      Pada bayi yang baru lahir dengan kista bronchogenic asimtomatik, intervensi bedah dianjurkan pada usia 3-6 bulan, yang memungkinkan untuk pertumbuhan paru-paru kompensasi.
*      Reseksi Thoracoscopic memiliki keunggulan utama yang termasuk rasa sakit kurang, cosmesis lebih baik, dan penurunan risiko peleburan tulang rusuk.
*      Konsultasi pra operasi anestesi dianjurkan, terutama pada bayi, karena perhatian dengan kompromi jalan napas dan pemantauan.
G.    Komplikasi
*     Efek massa
o    Kompresi pada saluran pencernaan bisa menyebabkan disfagia.
o    Kompresi jalan nafas, terutama jika kista hanya di bawah carina, dapat mengakibatkan gangguan pernapasan yang mengancam jiwa.
o    Kompresi jantung dan pembuluh darah besar dapat menyebabkan disritmia dan penyumbatan v. kava.
*     Kista yang berhubungan dengan komplikasi: Infeksi, pecah, perdarahan, dan kompresi yang umum. Sebuah risiko degenerasi ganas juga dicatat.
*     Lain: komplikasi melaporkan lainnya termasuk saluran napas-kista fistula, ulkus, dan perdarahan.
H.    Asuhan Keperawatan
*      Diagnosa Keperawatan

No
Diagnosa Keperawatan
1

2

3
4

5
Pola nafas tidak adekuat berhubungan dengan obstruksi jalan nafas

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplay oksigen kurang dari kebutuhan
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung
Gangguan mobilitas berhubungan dengan kelemahan pasien akibat tidak terpenuhinya nutrisi dan oksigen jaringan

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan obstruksi saluran cerna.


*      Asuhan Keperawatan
1.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplay oksigen kurang dari kebutuhan
Tujuan : : Pertukaran gas efektif.
Kriteria hasil :
Ü  Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
Ü  Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab
Intervensi
Rasional
1.        Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
2.      Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
3.      Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

4.      Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
5.      Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.
Pemberian antibiotika.
Pemeriksaan sputum dan kultur sputum.
Konsul photo toraks.
1.      Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit
2.      Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
3.      Untuk dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
4.      Untuk dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
5.      Untuk kolaborasi mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya


2.      Gangguan mobilitas berhubungan dengan kelemahan pasien akibat tidak terpenuhinya nutrisi dan oksigen jaringan

Tujuan            : Pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari optimal.
Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal terpenuhi
                          Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
Intervensi
Rasional
1.      Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
2.      Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan.
3.      Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
1.      untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
2.      Agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
3.      Untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.

3.      Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan obstruksi saluran cerna.
Tujuan ; Kebutuhan nutrisi adekuat
               Status nutrisi baik
Kriteria hasil :
Ü Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori
Ü Menu makanan yang disajikan habis.
Ü BB normal
Ü Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema

Intervensi
Rasional
1.   Kaji nutrisi Px.
2.   Anjurkan Px makan sedikit tapi sering.

3.   Timbang BB tiap 2 hari

4.   Ciptakan lingkungan dan suasana yang nyaman.
5.   Kolaborasi dalam pemberian Vitamin
1.   Untuk mengetahui intake dan output nutrisi Px.
2.   Untuk mempertahankan intake nutrisi px dan mengurangi mual.
3.   Untuk mengetahui penambahan dan pengurangan BB pasien.
4.   Lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan nafsu makan Px.
5.   Vitamin Untuk menambah nafsu makan pasien
























DAFTAR PUSTAKA


Lynda Juall, 2003, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.
Arif Mansjoer. Dkk (2001)., Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aes CV Laprus FKUI.
Judith M. Wilkinson, 2007, buku saku diagnose Keperawatan. Edisi 7. EGC, Jakarta.